ANTRE? BUDAYA SIAPA?




Ceritanya ngantre

Antre : berdiri berderet-deret memanjang menunggu untuk mendapat giliran (membeli dan sebagainya).



Pada suatu hari aku sedang membeli makanan di gerobak pinggir jalan, sudah ada dua pembeli yang datang, satu berdiri di sisi kanan gerobak, satunya berdiri di sisi kiri gerobak. Pembeli yang berdiri di sisi kanan dilayani lebih dahulu karena ia mungkin datang lebih awal (?), cukup lama menunggu hingga pembeli pertama selesai dilayani, tapi tiba-tiba datanglah seorang pembeli yang langsung berdiri di belakang si penjual. Dan ia minta segera dilayani dengan suaranya yang menggelegar dan buru-buru. Entah apa masalah yang ia punya hingga terburu-buru, tapi aku dan pembeli yang lain kan sudah datang terlebih dahulu. Jika dengan alasan bahwa ia lapar, apakah aku dan pembeli yang lain beli karena iseng?
Lalu siapakah yang terlebih dahulu dilayani setelah pembeli pertama? Tentu saja pembeli yang minta segera dilayani itu. Yah mungkin si penjualnya takut dengan si pembeli. I’m not gonna tell you the characteristic of the buyer ‘cause maybe you’ve already can tell what she looks like, peace. And you know what? She didn’t even say “thank you” to the seller also didn’t say sorry for being unpolite. Dan sesuai aturan, akupun dilayani terakhir (saat itu hanya ada 4 pembeli termasuk aku).

Postingan pertama di tahun 2020 berisikan sambat, tapi menurut kalian apakah antre sungguh bukan budaya kita? Karena tidak sekali saja aku mengalami hal tersebut. Sangat sering terjadi yang didahulukan adalah yang suaranya kencang, dan  yang bilang “mba/mas saya dulu dong”. Apakah budaya kita adalah kencang-kencangan suara? Dan kalian sebagai penjual, apakah jengah adalah alasan kalian untuk mendahulukan mereka? Enlighten me, please.

Komentar